Selasa, 02 Februari 2010

Rudal Balistik Gagal Ditembak Militer AS


Militer AS gagal menembak jatuh sebuah rudal balistik dalam satu uji coba mirip serangan Iran atau Korea Utara, setelah radarnya tak berfungsi, kata seorang juru bicara, Senin (1/2/2010).

"Uji tembak itu dilakukan Minggu di lokasi militer AS di Atol Kwajalein, di Kepulauan Marshall, namun rudal yang dijadikan sasaran tak tercegat seperti yang direncanakan," kata Rick Lehner, Juru Bicara Badan Pertahanan Rudal (MDA).

Radar pencegat berpangkalan darat itu diluncurkan dari pangkalan Angkatan Udara Vandenberg, di California, dan tampaknya normal.

"Namun, radar x-band berpangkalan laut tidak berfungsi seperti yang diharapkan dalam uji tembak itu," kata MDA dalam pernyataannya.

"Para pejabat telah mengadakan penyelidikan terhadap uji coba itu, dan penyelidikan tersebut perlu waktu beberapa pekan sebelum mereka menyelesaikan laporan awal," kata Lehner.

Sasaran rudal dalam uji tembak itu menggambarkan satu jenis teknologi yang dimiliki negara seperti Korea Utara dan Iran, yang diduga akan mereka kembangkan di masa depan yang bisa mengancam Amerika Serikat.

Uji coba tersebut terjadi saat Pentagon mengeluarkan satu laporan yang memperingatkan Iran dan Korea Utara, yang terus mengejar pencapaian rudal-rudal balistik jarak jauhnya.

Pentagon juga menyebut rudal jarak dekat dan sedang kedua negara merupakan ancaman regional bagi pasukan AS, pasukan sekutu, dan negara-negara mitranya.

Laporan Tinjauan Pertahanan Rudal Balistik juga menyuarakan kekhawatiran terhadap persenjataan rudal jarak dekat wilayah Suriah, yang bisa mencapai wilayah negara Israel, Irak, Jordania, dan Turki.

Uji coba ini dilakukan setelah adanya laporan-laporan bahwa militer AS sedang mempercepat pengiriman sistem pertahanannya untuk menghadapi potensi serangan rudal Iran di Teluk tanpa memerhatikan kemungkinan terjadinya suatu balasan.

Tindakan ini melibatkan pergerakan kapal-kapal di lepas pantai Iran dan sistem-sistem antirudal di sedikitnya empat negara Arab, yaitu Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait, demikian laporan surat kabar New York Times, mengutip pernyataan para pejabat militer dan pemerintah.


0 Comments:

Posting Komentar

blogger templates 3 columns | Make Money Online